MySpace Cartoon Glitter Graphics

Minggu, 21 Juni 2009

KRI Fatahilah,

KRI Fatahilah dengan Meriam Bofors 120 mm, saat ini menjadi meriam kaliber terbesar yang digunakan dalam armada KRI

KRI Fatahilah dengan Meriam Bofors 120 mm, saat ini menjadi meriam kaliber terbesar yang digunakan dalam armada KRI

Dengan anggaran militer yang serba terbatas, lumrah bila akhirnya TNI selalu mendapat pasokan alutsista (alat utama sistem senjata) bekas pakai dari negara lain. Tak terkecuali dalam pengadaan kapal perang (KRI). Dari ratusan KRI yang dimiliki TNI-AL, hanya beberapa saja yang dibeli berupa barang baru dari pabrik.

Diantaranya yang cukup dikenal pada masanya yakni frigat kelas Fatahilah. Frigat yang dibeli pada awal tahun 80an ini adalah buatan galangan kapal Wilton Fijenoord, Schiedam di Belanda. Ada tiga buah kapal jenis ini yang dimiliki oleh TNI-AL, yakni KRI Fatahilah 361 , KRI Malahayati 362 dan KRI Nala 363. Frigat ini mulai berdatangan di Tanah Air pada tahun 1979 sampai awal 80an.

KRI Fatahilah dalam sebuah patroli laut

KRI Fatahilah dalam sebuah patroli laut

Ketiga KRI memiliki spesifikasi yang serupa, baik kemampuan mesin dan persenjataan, kecuali KRI Nala yang punya rancangan sedikit beda di bagian buritan, dimana terdapat hanggar dan helipad untuk sebuah helikopter ringan. Sedang pada KRI Fatahilah dan KRI Malahayati, ketiadaan hanggar dan helipad digantikan dengan penempatan kanon 20 milimeter anti serang udara dan permukaan buatan Rheinmetal, Jerman. Peran utama ketiga frigat ini yakni sebagai pemukul dengan kemampuan anti kapal permukaan, anti kapal selam dan anti pesawat udara.

Data Teknis
KRI Fatahilah memiliki berat 1450 ton dan berdimensi 83,85 meter x 11,10 meter x 3,30 meter. Dua mesin diesel jelajah bertenaga 8.000 bhp dengan kecepatan jelajah 21 knot dan 1 boost gas turbine dengan 22.360 shp yang sanggup mendorong hingga kecepatan 30 knot melengkapi kapal berawak maksimal 82 pelaut ini.

KRI Fatahilah saat melepaskan roket mortir anti kapal selam

KRI Fatahilah saat melepaskan roket mortir anti kapal selam

Persenjataan
KRI Fatahilah dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan modern untuk mengawal wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Termasuk diantaranya adalah :

- 4 peluru kendali permukaan-ke-permukaan Aerospatiale MM-38 Exocet dengan jangkauan maksimum 42 Km, berkecepatan 0,9 mach, berpemandu active radar homing dengan hulu ledak seberat 165 Kg.
- 1 meriam Bofors 120/62 berkaliber 120mm (4.7 inchi) dengan kecepatan tembakan 80 rpm, jangkauan 18.5 Km dengan sistem pemandu tembkan Signaal WM28.
- 3. 2 kanon Penangkis Serangan Udara Rheinmetall kaliber 20mm dengan kecepatan tembakan 1000 rpm, jangkauan 2 KM untuk target udara.
- 12 torpedo Honeywell Mk. 46, berpeluncur tabung Mk. 32 (324mm, 3 tabung) dengan jangkauan 11 Km kecepatan 40 knot dan hulu ledak 44 kg. Berkemampuan anti kapal selam dan kapal permukaan.
- Mortir anti kapal selam Bofors ASR 375mm laras ganda.

Sensor dan elektronis
KRI Fatahillah diperlengkapi radar Racal Decca AC 1229 untuk surface search dan Signaal DA 05 untuk air and surface search. Serta pemandu tembakan Signaal WM 28. Sistem sonarnya menngunakan Signaal PHS 32 (Hull Mounted). Sistem pengecoh menggunakan 2 Knebworth Corvus 8-tubed launchers dan 1 T-Mk 6 torpedo decoy. Dengan kecanggihan sensornya, KRI Fatahilah ikut dilibatkan dalam pencarian puing-puing pesawat Adam Air Penerbangan 574 yang hilang pada 1 Januari 2007. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Formasi Tempur KRI Nala 363

Formasi Tempur KRI Nala 363

KRI Nala dilengkapi helipad dan hanggar mini untuk helikopter sekelas BO-105

KRI Nala dilengkapi helipad dan hanggar mini untuk helikopter sekelas BO-105

Karakteristik umum

Berat : 1.450 ton
Panjang: 83,85 ms (275.10 kaki)
Lebar: 11,10 ms (36.42 kaki)
Draft: 3,30 ms (10.83 kaki)
Tenaga penggerak: 2 shaft, masing-masing 8.000 bhp
Kecepatan: 21 knot
Awak kapal: 82 orang

Info | Indonesia merdeka, Indonesia jaya, Indonesia Raya


Phinisi-Raja Laut–walaupun tradisional ini di export lho….


MV TemuKira

MV Raja Ampat

Motor Yacht 28 meter…ini juga dibeli ma orang luar…


FPB-57…kebanggaan indonesia saat ini….tp nanti klo KORNAS ud dibuat bakalan jd kapal lama d………

LPD

Hovercraft

FPB-15

FPB-28

FPB-14

Star-50

Tanker 30.000 LTDW

Tanker 17.500 LTDW

Cargo Vessel 3.500 DWT

info dari kaskus.us

Lihatlah produk dalam negeri ini wahai anak bangsa (rakyatnya, wakilnya, pemerintahnya, penguasanya) tidakkah bisa kita bayangkan bahwa Indonesia mampu, bisa sejajar malah lebih dari negara maju .

Mulai saat ini tanamkan dalam hati kita wahai anak bangsa bahwa kita harus percaya diri sebagai sebuah bangsa besar. Saat ini kita baru berada pada fase Indonesia Merdeka, jika sudah melewatinya kita akan menuju Indonesia Jaya, jika sudah jaya kita akan jadi negara/bangsa yang lebih super power dari negara adidaya yaitu Indonesia Raya seperti cita-cita The founding Father dan pejuang kemerdekaan kita.

“KITA Harusnya Bangga, KITA Harusnya Percaya Diri, KITA Harusnya Berpartisipasi dalam membangun Bangsa ini”

“KITA tidak Seharusnya mengrogoti Bangsa ini dengan korupsi, suap, menipu rakyat sendiri, menghina /mencaci pemimpin sendiri”

Senin, 08 Juni 2009

Sejarah lahirnya TNI AU

Sejarah lahirnya TNI AU bermula dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada Tanggal 23 Agustus 1945, guna memperkuat Armada Udara yang saat itu sangat kekurangan pesawat terbang dan fasilitas-fasilitas lainnya. Sejalan dengan perkembangannya berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), pada tanggal 5 Oktober 1945 dengan nama TKR jawatan penerbangan di bawah Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma.

Pada tanggal 23 Januari 1946 TKR ditingkatkan lagi menjadi TRI, sebagai kelanjutan dari perkembangan tunas Angkatan Udara, maka pada tanggal 9 April 1946, TRI jawatan penerbangan dihapuskan dan diganti dengan Angkatan Udara Republik Indonesia, kini diperingati sebagai hari lahirnya TNI AU yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Bapak KarbolPerjalanan TNI Angkatan Udara sebagai sebuah angkatan perang, memang terkesan unik. Selain proses kelahirannya yang begitu singkat, yaitu sekitar tujuh bulan sejak Indonesia merdeka, alutsista yang dimiliki juga sangat sederhana. Waktu itu TNI Angkatan Udara hanya bermodalkan pesawat-pesawat bekas yang diperoleh dari rampasan tentara Jepang, seperti pesawat jenis Chureng, Nishikoreng, Guntei dan Hayabusha. Jumlah penerbang dan teknisinya pun sangat terbatas.

Meskipun masih diwarnai dengan kondisi kesederhanaan dan keterbatasan, namun TNI Angkatan Udara mampu menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Mengangkasanya pesawat dengan identitas merah putih yang diterbangkan oleh Komodor Udara Agustinus Adisutjipto tanggal 27 Oktober 1945, Operasi udara pertama tanggal 29 Juli 1947 yang merupakan serangan balas terhadap Agresi Militer Belanda I tanggal 21 Juli 1947, B-25operasi lintas udara di Kalimantan tanggal 17 Oktober 1947 serta gugurnya Kadet Kasmiran dalam mempertahankan Lapangan Udara Maguwo saat Agresi Militer Belanda II tanggal 19 Desember 1948 merupakan sebagian darma bakti para perintis TNI Angkatan Udara kepada Ibu Pertiwi. Suryadi Suryadarma, Agustinus Adisutjipto, Abdulrachman Saleh, Halim Perdanakusuma, Iswahjudi, H.M. Sudjono, Suharnoko Harbani, Mulyono, dan Sutardjo Sigit, merupakan sebagian nama-nama besar yang ikut andil membesarkan TNI Angkatan Udara.

Hadirnya pesawat-pesawat baru yang lebih modern seperti P-51 Mustang, B-25 Mitchel, C-47 Dakota, AT-16 Harvard, serta pesawat amphibi Catalina pada dekade 50-an, telah mengantar TNI Angkatan Udara selangkah lebih maju. Dengan pesawat-pesawat tersebut TNI Angkatan Udara ikut berperan dalam berbagai operasi keamanan dalam negeri, seperti penumpasan PRRI, Permesta, RMS, DI/TII serta berbagai gangguan keamanan dalam negeri lainnya.

Mig TNI-AU era 60anDekade 60-an, TNI Angkatan Udara memasuki masa jayanya dan bahkan menjadi Angkatan Udara yang paling disegani di kawasan Asia Tenggara karena memiliki alut sista udara yang cukup besar dan handal sehingga menjadi ” Deteren Power” bagi negara-negara yang berniat memusuhi NKRI. Pada era itu TNI AU juga ikut secara aktif dalam tugas besar yang diamanatkan negara, yaitu melaksanakan Operasi Trikora untuk mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi. Pesawat-pesawat P-51 Mustang, Mig-15, Mig-17, Mig-19, Mig-21, AN-12 Antonov, C-130 Hercules, serta TU-16, adalah sebagian alutsista TNI Angkatan Udara yang ikut menentukan keberhasilan operasi tersebut. Demikian juga dalam Operasi Dwikora dan penumpasan pemberontakan G30S PKI, TNI Angkatan Udara senantiasa ikut di dalamnya.

Bronco TNI-AUAwal dekade 70-an, kekuatan dan kemampuan TNI AU menurun drastis, namun pada pertengahan tahun 70-an Angkatan Udara mulai bangkit kembali secara bertahap. Masuknya beberapa alutsista seperti pesawat OV-10 Bronco, F-86 Sabre, T-33 Bird, Fokker F-27, serta Helicopter Puma SA-330 yang serba guna, merupakan angin segar setelah beberapa alutsista produk negara Timur mengalami kesulitan dalam spare partnya. Dengan alutsista tersebut, semakin menambah kekuatan TNI Angkatan Udara.

F-5 TNI-AUDekade 80-an, TNI Angkatan Udara memasuki era supersonik, dengan hadirnya pesawat tempur F-5 Tiger II. Kemampuan TNI Angkatan Udara makin meningkat dengan tambahan kemampuan pengamatan udara dan pengawasan dini dari radar Thomson dan Plessey, serta pesawat Boeing 737 yang mampu mengamati wilayah permukaan. Datangnya pesawat A-4 Sky Hawk, C-130H Hercules, dan didukung oleh pesawat latih jenis Hawk MK-53 dan helikopter Puma yang serba guna, menjadikan TNI Angkatan Udara sebagai sebuah angkatan perang yang mengagumkan. Apalagi dengan datangnya pesawat Multirole F-16 Fighting Falcon dari Amerika pada akhir tahun 1989 menambah keperkasaan TNI Angkatan Udara dan dapat disejajarkan dengan angkatan udara negara lain.

F-16 TNI-AUMemasuki dekade 90-an, kekuatan TNI Angkatan Udara diperhitungkan oleh angkatan udara negara-negara lain di kawasan Asia tenggara karena pada era ini TNI Angkatan Udara telah memiliki pesawat-pesawat yang modern dan canggih seperti pesawat F-5 Tiger II, A-4 Sky Hawk, Hawk MK-53, C-130 Hercules, SA-330 Puma, Boeing 737, F-16 Fighting Falcon, Helicopter Super Puma NAS 332 dan Helicopter Latih EC-120 B Colibri. Disamping itu dari pesawat-pesawat ini, TNI Angkatan Udara memiliki sebuah tim aerobatik yang cukup melegenda, yaitu Tim Elang Biru, yang dapat disejajarkan dengan tim aerobatik kelas dunia. Memasuki tahun 1996, armada udara TNI Angkatan Udara diperkuat oleh pesawat tempur jenis Hawk 100/200 yang ditempatkan di Skadron Udara 12 dan 1.

Sukoi TNI-AUMemasuki milenium ke III, TNI Angkatan Udara melengkapi teknologi Barat yang sudah ada dengan teknologi dari Timur, yaitu dengan hadirnya pesawat Sukhoi SU-27 dan SU-30 dari Rusia yang ditempatkan di Skadron Udara 11, Pangkalan Udara Hasanudin, Makassar. Kehadirannya semakin mewarnai angkasa Indonesia dan tentunya akan memperkuat pertahanan udara nasional dalam rangka menjaga kedaulatan Negara Republik Indonesia di udara.

Sejak berdirinya TNI AU dengan alat utama sistim senjata yang dimiliki disamping melaksanakan operasi militer untuk perang, TNI Angkatan Udara juga melaksanakan operasi militer selain perang yaitu operasi bhakti dan tugas-tugas kemanusiaan seperti penanganan bencana alam tsunami di Propinsi NAD dan Sumatra Utara dan bencana alam di Yogyakarta dan Jawa Tengah serta bencana alam lainnya di beberapa daerah.

CN-235 TNI-AU

Semua yang diupayakan dan diusahakan TNI Angkatan Udara, tidak lain adalah guna mewujudkan angkatan udara yang handal dan mampu menghadapi setiap ancaman yang membahayakan keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sesuai tugas yang diamanatkan dalam UU TNI Nomor 34 tahun 2004.

Kekuatan TNI-AU
Secara Umum TNI-AU membagi kekuatannya menjadi dua yaitu :

Kekuatan TNI-AU

  1. Komando Operasi Angkatan Udara I (Koops AU I) yang bermarkas di Halim Perdanakusumah Jakartai

Jumat, 01 Mei 2009

Mengenal Desainer Produk Otomotif


foto:seriouswheels.com


Munculnya produk-produk otomotif seperti mobil, motor, kendaraan niaga, alat angkut berat dan sebagainya tidak lepas dari peranan Desainer Produk yang menyumbangkan gagasan ide untuk melahirkan bentuk yang menarik maupun fungsional.

Kebetulan saya berlatar belakang Desainer Produk, ga ada salahnya saya coba sharing tentang apa sih kiprah Desainer Produk Otomotif.
Saya coba lampirkan tulisan yang pernah dimuat di koran Pikiran Rakyat - Bandung 2003 lalu.
Mungkin ada yang minat meneruskan studi menjadi Desainer Produk?

Sumber: Pikiran Rakyat/Otokir, Edisi 2003, disalin oleh Yosa Fiandra (desainer produk - STISI).


Desainer Produk Otomotif, dimasa Depan Profesi Ini akan Sangat Menantang.

Di negara maju yang menjunjung tinggi hak intelektual, profesi dan lingkup kerja desainer - apa pun embel-embelnya - sangat dihormati. Jantung para desainer fashion maupun industri, termasuk produk otomotif, seakan berpacu menghasilkan bentuk-bentuk inovatif. Desain-desain jempolan pun muncul setiap saat.


Ruang riset dan desain (R&D) tak ubahnya gudang “nyawa cadangan” perusahaan. “Memang di situlah karakter proruk dibentuk,” ucap Mizan Allan De Neve, GM Product Development Pantja Motor, penjual merek Isuzu, yang giat membina desainer muda. “Potensi dan peluang desainer kita sebenarnya cukup bagus, bahkan sanggup bersaing di mancanegara,” ujarnya lagi.

foto:cardesignnews.com

Lantas, bagaimana dan apa saja syarat menjadi desainer produk otomotif itu? Mizan menyebut kemahiran menuangkan ide ke dalam gambar dua dimensi sebagai syarat utama. Ketelitian pun dibutuhkan, karena perancang harus mengetahui persis detail rancangannya.

Sehingga ketika hendak diwujudkan menjadi bentuk tiga dimensi (model maupun prototipe), tak ada kesulitan. Bakat alam tadi, jika digabungkan dengan pengetahuan dasar otomotif (minimal tahu letak dan cara kerja parts kendaraan), bakal membentuk talenta istimewa.

foto:seriouswheels.com

“Dia bisa menguasai bidangnya tiga hingga empat kali lebih cepat ketimbang yang harus mempelajari dulu seluk-beluk komponen kendaraan,” tegas Mizan. Di Indonesia, tercatat 11 universitas atau akademi memiliki jurusan desain industri, termasuk otomotif. Empat di antaranya di Jakarta, yakni Universitas Paramadina, Universitas Trisakti, Universitas Indonesia Esa Unggul, dan Universitas Pelita Harapan.

foto:seriouswheels.com

Bagaimana jika ingin menimba ilmu di luar negeri? David Cole, direktur jurusan Desain Industri, Academy of College (AAC), San Fransisco, punya syarat lebih fleksibel. Modal paling penting untuk belajar desain adalah kreativitas dan hasrat kuat menjadi desainer. “Tak perlu kecakapan khusus,” ujarnya di situs AAC.

Di ASdan Eropa, sekolah yang mengajarkan desain otomotif jumlahnya berjibun. Maklum, pabrik modil dan rumah desain tak terbilang banyaknya. Tak heran lulusan sekolah tadi kerap menjadi incaran pabrik besar sekelas Ford Motor Company, General Motors, Audi, VW, maupun rumah desain terkemuka, semisal Gingko Design, Fitch, Frogdesign, Pentagram, maupun Astrodesign.

foto:seriouswheels.com

David Cole meringkas kurikulum AAC menjadi empat areal pengajaran: menggambar, membuat model, komputerisasi, serta teknik mendesain. Siswa diajarkan teknik menggambar dan membuat model dengan cara tradisional dan bantuan komputer.

“alat bantu desain di tiap pabrik kerap berbeda. Dengan mengajarkan berbagai alternatif cara mendesain, siswa siap menghadapi berbagai perbedaan,” sambung David.

foto:seriouswheels.com

Di kawasan Asia pasifik, sekolah seni dan desain Hongik University cukup populer, karena mendapat dukungan pabrikan mobil Korea Selatan. Tiap ajaran baru, sekolah-sekolah ini memamerkan hasil karya siswanya. Nah, jika ada desain yang membuat sumringah pabrik mobil besar, desainernya bisa langsung mendapat tawaran kerja.


Calon desainer kendaraan juga harus rajin mengamati perkembangan otomotif. David mengingatkan, mobil generasi mendatang bakal lebih smart, karena menggunakan bahan bakar hibrida atau hidrogen. Pemanfaatan ruangan juga lebih efisien, tapi di sisi lain makin banyak alat komunikasi dan entertainment berbasis komputer ditanam.

“Saya berani katakan, di masa depan, profesi ini akan sangat menantang,” promosi jebolan sekolah politeknik Coventry, Inggris ini.


foto:seriouswheels.com



Segera Terbit.. Buku Utak-Atik Otomotif,






Niat baik untuk berbagi pengalaman otomotif melalui website saft7.com ternyata berbuah hasil yang baik pula. Alhamdulillah, kepercayaan pembaca setia saft7.com atas materi yang disajikan saft7.com membuat saft7.com mulai banyak dikenal berbagai kalangan masyarakat dengan berbagai latar belakang. Terlihat dari statistik unique user yang masuk setiap harinya cukup banyak untuk sebuah website yang hanya bermodal ide dan semangat berbagi dengan biaya promosi hampir bisa dibilang tidak ada.

Terimakasih atas perhatian, dukungan, kritik hingga kepercayaan yang diberikan kepada saft7.com khususnya saya sendiri sebagai ‘One Man Show’ di website ini.
Terimakasih juga atas kontribusi rekan2 yang turut menyumbangkan bahan artikel yang ditampilkan di saft7.com.

Akhirnya sekitar 2-3 bulan lalu saya mendapatkan tawaran agar saft7.com dibuat menjadi buku, sehingga lebih banyak lagi masyarakat yang dapat membaca artikel tersebut, tidak hanya masyarakat Internet.
Tawaran disampaikan oleh PT Elex Media Komputindo.
Tentunya saft7.com tidak melewatkan tawaran tersebut, segera dikirimkan naskah artikel yang akan ditampilkan di buku nantinya, proses berjalan cukup lancar, hingga pada suatu rapat diputuskan bahwa buku ini akan dicetak FULL COLOR dengan cover premium class, sehingga membuat buku ini layak untuk dikoleksi.
Karena website saft7.com ini terus berkembang, maka buku ini direncanakan akan dibuat secara berkelanjutan dalam jilid1, jilid2, dst. Insya Allah.

Nah bagaimana suka dukanya menyusun ulang dari media WEB untuk dibuat menjadi Media Cetak (buku), saya akan berbagi pengalaman ini…

WEB vs PRINT

  • Untuk media web, foto yang ditampilkan haruslah tidak berkapasitas besar untuk meringankan proses download pada saat browsing, antara lain dengan format RGB, JPG, resolusi hanya 72dpi, dengan satuan ukuran pixel. Filesize untuk foto-foto web di saft7.com rata-rata berkisar antara 10KB - 120KB
  • Untuk media Print (cetak), foto yang ditampilkan haruslah berukuran sama persis ketika akan dicetak, dengan format CMYK, TIFF, resolusi 300dpi, dengan satuan Centimeter atau Milimeter.
    Filesize untuk foto-foto buku saft7.com rata-rata berkisar antara 5MB - 20MB!!
    Tidak heran besar data untuk materi buku ini pada harddisk hingga sebesar 3GB.

Wah duh…
Saya harus memfoto ulang hampir 80% materi artikel yang akan dicetak!
Akhirnya mendapat kepercayaan pinjaman kamera dari teman seorang fotografer dahsyat , agar foto yang dihasilkan bisa tuajam dan lebih baik lagi.

Saat ini (10 Mei 2006) sedang dalam proses Final Editing, minggu depan buku mulai dicetak.
Kurang lebih Pertengahan hingga Akhir JUNI 2006 ini, buku ini bisa ditemukan di toko buku di seluruh Indonesia.

Wajib Beli ya!!!

Berikut foto-foto aktifitas penyusunan buku saft7.com…

Komponen-komponen yang dibahas di buku dipersiapkan untuk difoto ulang lagi. Ini bagian yang sangat melelahkan…

Sedang mengatur / memanipulasi jarum-jarum speedometer untuk di foto.

Pakai Camera Pocket, Siapa Takut??!!!
Jangan minder dengan kamera-kamera profesional, toh yang penting hasilnya juga khan?

Sedang beraksi memfoto Speedometer BMW.

Perhatikan latar belakang putihnya… itu menggunakan bagian belakang kalender dinding… hehe.. murah meriah tapi OKE!

Memfoto ulang klakson Keong, khususnya yang untuk digunakan sebagai Lead Photo.

Terus terang saya termasuk idealis dalam urusan desain,.. jadi mulai dari Layout Content, hingga Layout Cover, juga fotografinya.. semua saya lakukan sendiri deh.. Capek banget memang.. tapi puas banget rasanya jika terealisasi, apalagi jika orang bisa menerima hasil karya tersebut.

Tak kalah melelahkan, membaca ulang buku yang sudah diedit sebelumnya oleh Editor Elex, ini sudah proses Final Editing…. ternyata masih saja ada yang dikoreksi.. hehehe.

Ga cukup sekali baca… hingga tiga kali baca ulang kata demi kata…
Duh duh… lelah banget.

Ketika ide buku ini disampaikan ke President Director PT Kramayudha Tiga Berlian, beliau langsung menyambut dengan baik dan turut memberikan testimonial untuk buku ini.. Alhamdulilaah..

Nah.. Ini desain Cover Finalnya…
Kita tunggu ya…. Insya Allah semua berjalan lancar…
Tentunya pembeli buku ini melalui website saft7.com akan ada bonus khusus.

Terimakasih buat semua pembaca saft7.com!