MySpace Cartoon Glitter Graphics

Jumat, 14 Agustus 2009

Taruna AAL Korps Marinir Latihan Pendaratan Amfibi


Taruna AAL Korps Marinir Latihan Pendaratan Amfibi

Taruna AAL Korps Marinir Latihan Pendaratan Amfibi

Taruna AAL Korps Marinir Latihan Pendaratan Amfibi

Taruna AAL Korps Marinir Latihan Pendaratan Amfibi

BITUNG - Sejumlah anggota Marinir keluar dari tank amphibi pada latihan tempur pendaratan amphibi marinir di pantai Mapalus, Bitung Sulawesi Utara,. Latihan yang diikuti Taruna Angkatan Laut dari Korps Marinir tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para Taruna TNI AL serta menguji kemampuan peralatan perang amphibi bila sewaktu-waktu dibutuhkan

Kamis, 13 Agustus 2009

Reminisensi Kejayaan Kopaska : Terus Menatap Ke Depan "

Kopaska

KopaskaKOMANDO PASUKAN KATAK (KOPASKA). Siapa yang tidak kenal Pasukan Kebanggaan TNI AL itu? Dimana untuk “mengenakan brevetnya” itu seorang anggota TNI AL harus mendaftar untuk selanjutnya mampu mengikuti dan melampaui semua test dari “nol”. Dengan kata lain harus betul-betul “KUAT-SEGALANYA”.

Sebagai sebuah Satuan Khusus (Special Warfare) TNI AL, KOPASKA secara kuantitatif tidak punya arti apa-apa. la bukan salah satu Unsur dalam jajaran TNI AL, tetapi cuma salah satu Unit, bahkan lebih kecil dari unit-unit dalam jajaran TNI AL secara keseluruhan. Tetapi secara kualitatif KOPASKA adalah Satuan Pemukul Strategis (Band. US Navy SEAL, SBS AL Inggris, dan pasukan elit sejenis di sejumlah negara lain, khususnya Pasukan Katak Italia yang berhasil menghancurkan sekitar 75 Armada AL Inggris di Malta pada Perang Dunia ke-II).

KopaskaParameter kualitatif KOPASKA ini dibuktikan dengan Tri-Tugas yang dibebankan ABRI (saat ini TNI) kepada satuan kecil ini, diawal kelahirannya pada tanggal 31 Maret 1962. Dalam Operasi Militer merebut Irian Barat dari tangan Belanda itu, KOPASKA mendapat tugas khusus :

* Pertama, melaksanakan intai pantai Biak (combat reconnai-sance) dan pada hari-H, me-laksanakan penghancuran ha-lang-rintang alam maupun buatan (Belanda) di pantai pendaratan.

* Kedua, melaksanakan serangan komando (commando raid) terhadap sasaran-sasaran di laut dan di pantai pendaratan, termasuk melaksanakan pen-culikan Laksamana Reeser, Panglima Tentara Belanda di Irian Barat.

* Ketiga, melaksanakan peng-hancuran Kapal Induk HMS Karel Doorman dengan serangan Torpedo Berjiwa (human torpedo).

KopaskaTritugas ini sesungguhnya adalah sebuah “mission impossible” baik dari segi persiapan maupun pelaksanaannya. Banyak faktor yang tidak diperhitungkan atau yang belum sempat diperhitungkan bermunculan satu demi satu, khususnya mengenai SDM dan logistik tempur serta prosedur standar operasi dalam sebuah operasi ampibi yang melibatkan lebih 100 kapal perang dan belasan ribu pasukan ABRI. Sementara TNI AL baru memiliki beberapa orang yang berkualifikasi Pasukan Katak jebolan UNDER WATER DEMOLITION TEAM UDT US NAVY.

Untunglah, di-bawah koordinasi Mayor Laut O.P. Koesno komandan kapal selam KRI Cakra, berhasil dibentuk satuan yang tadinya dimaksud sebagai pasukan berani mati, melalui tahapan pembentukan Instruction Group yang pada gilirannya membentuk sebuah pasukan elit baru yang diberi nama Komando Pasukan Katak Angkatan Laut Republik Indo-nesia KOPASKA, yang dalam realitas operasionalnya terdiri dari anggota-anggota TNI AL dan Kopassus (RPKAD).

KopaskaSementara itu untuk memenuhi kriteria sebuah pasukan katak, maka Kelompok Bantu direkrut dari KPBA (Penyelaman). Demikian halnya dengan Unit Torpedo Berjiwa direkrut dari berbagai satuan dalam jajaran Armada TNI AL dan Kodam 5 Jaya. Dengan bekal itulah KOPASKA lahir ditengah-tengah persiapan TRIKORA pada awal tahun 1962.

Memasuki tahun 2001, KOPASKA sudah jauh berkem-bang. Bahkan berubah secara radikal, baik secara kuantitas maupun kualitas. Hal ini pada satu sisi menunjukkan persepsi dan apresiasi pimpinan TNI AL yang semakin memahami hakikat keberadaan KOPASKA, dibanding 20 tahun lalu. Pada sisi lain karena berbagai kecenderungan perkembangan dan perubahan yang terjadi yang menuntut antisipasi dinamis sesual dengan karakter ancaman dan tantangan baru sebagai konsekuensi logis dan proses globalisasi. Karena itu sangat mengagumkan bahwa ketika dalam tempo yang relatif singkat (1968-2000) bagi sebuah pa-sukan khusus, KOPASKA sudah menjadi bagian integral dari Sistem Senjata Armada Terpadu di dua Komando Armada Ka-wasan, Barat dan Timur. Padahal tiap angkatan hanya melahirkan beberapa “gelintir” anggota saja karena proses “pencetakannya” yang memakan waktu relatif lama dan biayanya cukup mahal. Apalagi karena parameter mental (disiplin, hirarki dan kehormatan militer) digunakan untuk mengu-kur lulus (qualified) tidaknya seorang calon anggota KOPAS-KA, lebih kental ketimbang persoalan fisik semata-mata.

KopaskaKOPASKA juga sudah mam-pu memenuhi tugas-tugas yang dibebankan kepada mereka sesuai dengan acuan-acuan yang sedang terus dikembang-kan baik untuk peperangan konvensional maupun inkonven-sional. Anggota-anggotanya bahkan sudah mendapat kesem-patan bergabung dalam satuan-satuan Indonesia dibawah PBB di beberapa negara, seperti Garuda IX/UNIMOG di Irak, Garuda XII/UNTAC di Kamboja, Garuda XIV/UNPROFOR di Bosnia-Herzegovina. Mereka akseptabel dimana-mana, baik dilingkungan TNI AL maupun diluar itu.

Mencermati kelahiran KO-PASKA, maka prajurit berkuali-fikasi KOPASKA sesungguhnya tidak cuma ada di TNI AL, tetapi juga di KOPASSUS. Kerjasama ini sudah terjalin lama. Oleh sebab itu, kelahiran KOPASKA TNI AL yang secara administratif organisatoris ditetapkan pada 31 Maret 1962 dengan Surat Keputusan Menteri / Kepala Staf Angkatan Laut No. 5401.13, sesungguhnya adalah kelahiran Satuan PASKA KOPASUS juga. Dalam pada itu, sejak awal 2001, 3 kompi prajurit KOSTRAD TNI-AD telah menyelesaikan latihan khusus Intelijen Tempur Matra Laut dan Selam Dasar (Scuba) di KOPASKA. Hal ini di satu sisi menunjukkan semakin bertam-bahnya kepercayaan yang diberikan kepada KOPASKA. Disisi lain semakin menambah jumlah personel TNI-AD dengan kualifikasi Intelijen Tempur Matra Laut dan Selam Dasar. Rangkai-an kerjasama ini ditandai dengan Telegram Panglima TJADUAD (KOSTRAD) No. ST. 037/62 tertanggal 28 April 1962 yang melahirkan Surat Perintah Men/KASAD No. SP 325/1962 dan SK Men/KASAD No. 1301.4 tanggal 7 Mei 1962, yang berlanjut dengan keluarnya Surat Perintah Komandan RPKAD (Kolonel TNI Mungparhadimulya) No. SP 111/S/1962, yang menetapkan sejumlah anggota KOPASKA sebagai Instruktur untuk melatih anggota-anggota RPKAD (KO-PASSUS) yang kemudian mela-kukan tugas di TRIKORA sebagai anggota KOPASKA.

KopaskaAdapun tugas-tugas yang berkaitan dengan KAMLA yang dapat dilaksanakan oleh Pasukan Katak adalah tugas-tugas mengemban fungsi TNI AL antara lain : intelejen maritim, peng-amanan kekayaan laut, unsur-unsur peranan amfibi, anti teror di laut, anti infiltrasi/subversi di laut, anti pembajakan dilaut, anti pelanggaran wilayah laut, anti penyelundupan, anti imigrasi gelap/perdagangan budak wa-nita, pengamanan penelitian di laut, anti pencemaran laut, dan lain-lain. Untuk itu, setiap insan Pasukan Katak harus memiliki Buku Putih KAMLA tersebut untuk bisa memahami serta menghayati dalam pelaksanaan tugas-nya. (hal. 219).

Banyak pelajaran penting yang bisa kita baca dari buku “DARI PANTAI BIAK KE PONDOK DAYUNG DAN UJUNG” ini. Salah satunya adalah tentang Terorisme di laut (hal. 230 - 251). Hal ini meliputi : Operasi anti teror di laut(strategi, taktik, pola operasi, fasilitas lepas pantai dan ranjau), Pendidikan dan latihan anti teror, hakekat maupun bentuk serta obyeknya, Cara beroperasi, Satuan Tugas Anti Teror, serta Komando dan Pengendalian.

KopaskaSecara garis besar, tulisan ini sangatlah bagus. Hanya saja banyak terdapat pemborosan kalimat/kata didalamnnya, disamping juga “kurangnya” tanda baca : titik dan koma. Sehingga pada kalimat (bagian) tertentu berkesan “membingung-kan”. Namun demikian, tidak dipungkiri, ”kuatnya” tulisan ini didasari dengan tingginya “jam terbang” penulis sebagai seorang KOPASKA. Diantaranya, tahun 1970, penulis mengikuti pendi-dikan di US Navy Training Center Great Lakes, Illinois dan Defense Institute di Texas. Selama disana, penulis mengikuti kelas extensi di Universal Academy. Tahun 1972 kembali ke Indonesia dan ditempatkan di Staf Pendidikan Sekolah Intelijen Angkatan Laut SEKINTAL. Kemudian di SU-1 DAERAL III Jakarta sebagai Kepala Seksi Pengusutuan untuk membongkar hilangnya 11.000 peluru meriam dari gudang senjata di P. Edam (penyidikan kasus itu setiap jam 6 pagi, dimonitor oleh Kaskomkamtib Laksamana Soedomo). Juga, diperbantukan kepada Panglima LAKSUSDA JAYA sebagai Staf Ahli Panglima (Mayjen G.H. Mantik). Kemudian ke Dispamal (Mabesal). Untuk kepentingan yang lebih besar, tahun 1975 di non-organikkan (Pusintelstrat), dengan pangkat terakhir Sersan Mayor. Karena reputasi interna-sionalnya, tahun 1975 mendapat promosi Special Agent dari Interpol Congress di Miami, USA. Tahun 1976 promosi Captain Security Officer dari Police International di New Brunswick Canada, sekaligus Registered International Criminologist dari institusi yang sama. Posisi ini memberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan-nya sebagai “generalis” dengan mengikuti kelas-kelas ekstensi psikologi, filsafat, manajemen, bisnis, teologi agama-agama. Aktifis lebih 200 seminar/lokakarya/simposium/kongres/konferensi/pelatihan, nasional dan internasional, baik sebagai peserta, moderator atau nara-sumber. Dua diantaranya (dalam konteks buku ini). Moderator pada Seminar Hubungan Sipil-Militer (2000) dengan pembicara Laksda TNI Dr. Sapto Poerwowidagdo (TNI AL), Mayjen TNI Sudrajat (Mabes TNI), Mayjen TNI Bimo Prakoso (lemhanas). Penulis yang sering membantu (asis-tensi) di beberapa instansi pemerintah ini, juga selama 17 tahun membantu sebuah ORNOP di bidang LITBANG. Juga, mantan Sekretaris Nasional Dialog Nasional Irian Jaya era Presiden Habibie (1998/1999) yang pernah mendirikan Center For Papuan Studies CENPAS. (hal 320-321).

Kopaska“… Dari pantai Biak ke Ujung … Jalan panjang lewat Pondok Dayung …. Dari Trikora terus ke Dwikora … Hanya demi membela negara” … merupakan bait kedua dari lagu Hymne KOMANDO PASUKAN KATAK yang diciptakan oleh penulis sendiri. “Berusaha memberi segumpal emas, meskipun hanya diwajibkan segumpal tanah” merupakan motto penulis. Suatu hal yang sangat kita banggakan dari buku ini adalah kita dapat mengenang kembali cikal-bakal kejayaan KOPASKA dari “embrio”nya hingga saat ini dengan terus menatap ke depan. Lebih dari itu, banyak pelajaran penting yang dapat menambah wawasan kita semua. Selamat berjuang prajurit “Combat Frogman”ku, TAN HANNA WIGHNA TAN SERNA. Salam KOPASKA : HALLO KINGS!, HALLO KINGS!, HALLO KINGS! … KOPASKA!!!!

Korps Marinir Indonesia Terbaik ke-3 di Dunia"

JAKARTA - Korps Marinir TNI Angkatan Laut dan Korps Marinir Amerika Serikat (US Marine Corps/USMC) sepakat untuk meningkatkan kerja sama, terutama dalam peningkatan kemampuan antiteror.

"Kita semua menyadari ancaman terorisme akan tetap ada dan bahkan mengalami peningkatan. Karenanya kami akan terus bekerja sama," kata Komandan Korps Marinir AS Jenderal James T Conway usai menerima penghargaan "Baret Korps Marinir" TNI AL di Jakarta,

James Conway mengatakan, peningkatan kemampuan personel marinir kedua negara telah lama dilakukan dalam berbagai bentuk seperti pendidikan dan latihan bersama.

"Terkait dengan kontra terorisme, kita akan bekerja sama untuk saling meningkatkan kemampuan antiteror. Yang selama ini sudah berjalan baik, namun ke depan akan kita sempurnakan lagi," ujar Conway.

Conway menambahkan, kerja sama korps marinir kedua negara telah banyak mengalami peningkatan positif dan banyak hal yang masih dapat dikerjasamakan kedua pihak di waktu mendatang.

"Korps Marinir Indonesia adalah terbaik ketiga di dunia, dan telah banyak yang kami lakukan bersama dan akan dilakukan di masa datang dengan lebih baik bagi peningkatan profesionalisme kami sebagai marinir," katanya.

Sementara itu, Komandan Korps Marinir TNI AL Mayjen TNI (Mar) Djunaidi Djahri mengatakan, pihaknya akan terus membina kerja sama dengan korps marinir negara lain.


US Marine mencoba SS-1 di Puslatpur Marinir TNI AL, Situbondo.

"Selain untuk membina hubungan baik, latihan bersama ini juga bertujuan meningkatkan kemampuan dan keterampilan personel marinir," ujarnya.

Beberapa latihan bersama telah dilakukan antara marinir RI dan AS dan akan terus ditingkatkan dengan cakupan kerja sama yang lebih luas tak hanya kemampuan di bidang perencanaan, kegiatan staf, prosedur operasi pemeliharaan, komando pengendalian, pengambilan keputusan dan pengawasan.

Akan tetapi juga pertukaran keilmuan antara marinir kedua negara seperti sistem kerja simulator counter insurgency line of operation, militery decision making process dan marine corps planning process.

"Kami juga telah mengadakan latihan bersama untuk operasi pemelihara perdamaian PBB .Operasi bertujuan meningkatkan stabilitas keamanan untuk mengembalikan dan memelihara kebebasan bergerak serta memberikan bantuan kemanusiaan di sejumlah wilayah konflik di dunia," kata Djunaidi.

Australia Kagumi Sistem Pertahanan Teritorial RI"


MAKASSAR - Sistem pertahanan RI dengan menggunakan konsep sistem teritorial menarik bagi Australia. Yakni sistem yang membagi habis wilayah pengamanan melalui pembentukan sejumlah Komando Daerah Militer (Kodam), Komando Resor Militer (Korem), Komando Rayon Militer (Koramil) hingga Badan Pembinaan Desa (Babinsa) untuk tingkat wilayah terkecil. Yang muaranya adalah pelibatan seluruh rakyat sehingga disebut juga sistem pertahanan semesta.

"Sistem pertahanan dengan sistem teritorial yang juga secara umum melibatkan seluruh lapisan masyarakat itu sangat menarik. Tidak ada konsep seperti kecuali di Indonesia," kata Atase Angkatan Darat (AD) Kedutaan Besar Australia untuk RI, Kolonel Fred Alexander Cary Danger dalam pertemuannya dengan jajaran petinggi Kodam VII Wirabuana diwakili Kepala Staf Kodam (Kasdam) VII Wirabuana Brigjen TNI Wibowo, di Makassar,
Sebelumnya, dalam pertemuannya dengan jajaran petinggi Kodam VII Wirabuana kurang lebih dua jam ini, Kasdam VII Wirabuana, Brigjen TNI Wibowo menjelaskan panjang lebar tentang sistem pertahanan nasional Indonesia.

Dari penjelasan Kasdam VII Wirabuana ini juga, Kolonel Fred Alexander Cary Danger menilai secara umum Indonesia dan khususnya Sulawesi aman dan kondusif melalui penerapan sistem pertahanan yang melibatkan masyarakat. Selain itu, Atase AD Kedubes Australia untuk RI ini juga mengagumi fungsi nonperang TNI yang salah satunya adalah ikutnya TNI berperan dalam ketahanan pangan nasional dan kegiatan sosial lainnya. Seperti yang ditunjukkan Pangdam VII Wirabuana dalam fotonya saat bersama-sama petani menanam padi.

"Peran TNI di sini khususnya di Sulawesi dalam fungsi nonperangnya sangat menarik. TNI ikut membantu masyarakat dengan kegiatan-kegiatan sosialnya. Di Asutralia juga tentara ikut terlibat membantu dalam kegiatan sosial tapi hanya untuk penanganan bencana," tutur Kolonel Fred Alexander Cary Danger dengan Bahasa Indonesianya yang cukup fasih.

Dalam kesempatan pertemuan ini juga, Kolonel Fred menjelaskan, kedatangannya ke Makassar untuk mendiskusikan kerja sama TNI AD dan AD Australia namun secara konkret tidak mengungkap jenis kerja sama yang dimaksud. Meski demikian, diakui pemerintah Australia sangat menghargai dan mendukung Indonesia untuk bekerja sama mengatasi ancaman terorisme.

Kapal Induk AS 18 Agustus Tiba di Bunaken"



JAKARTA — Kapal induk Amerika Serikat (AS), USS George Washington CVN-73, 18 Agustus 2009 akan berlabuh di Bunaken, Manado, Sulawesi Utara. Namun, kedatangan armada perang AS itu bukan untuk keperluan perang, melainkan sebagai peserta parade kapal perang Indonesian Fleet Review 2009 (IFR 09) yang diselenggarakan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dan Departemen Kelautan dan Perikanan RI pada 12 Agustus hingga 19 Agustus 2009.

"Amerika Serikat akan mengirimkan kapal induk nuklirnya pada 18 Agustus 2009 ke sana (Bunaken-Manado)," ujar Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul saat jumpa pers di Wisma Elang Laut, Jakarta, Kamis (6/8).

Perhelatan spektakuler bertaraf internasional yang diberi nama Sail Bunaken 2009 tersebut terdiri dari berbagai kegiatan. Kegiatan tersebut antara lain olahraga bahari, kirab kota, seminar, dan parade kapal perang internasional atau disebut IFR 09 (Indonesian Fleet Review), serta dirangkai dengan dua pemecahan rekor dunia, yakni selam massal pada 16 Agustus 2009 dan upacara bendera di bawah laut untuk memperingati detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ke-64 pada 17 Agustus 2009.

Menurut Iskandar, hingga saat ini sudah ada 42 negara, termasuk AS, yang sudah positif menyatakan kehadirannya dalam acara IFR 09. Beberapa negara di antaranya akan hadir dengan delegasi beserta kapal perangnya, sementara yang lainnya hanya akan mengirimkan delegasi perwakilan.

"Di antara negara yang hadir dengan delegasi dan kapal perangnya, yaitu Amerika Serikat, Australia, India, Inggris, Malaysia, Rusia, dan lain-lain, sedangkan yang hadir dengan delegasi, misalnya, Arab Saudi, Banglades, Belanda, Brunei Darussalam, Cile, Iran dan lain-lain," katanya.

Adapun jumlah kapal perang negara sahabat peserta IFR 09 yang akan hadir adalah sebanyak 29 kapal perang, ditambah dua tall ship (Tunas Samudera dari Malaysia dan Nadezha dari Rusia, serta satu kapal Coast Watch Australia), sedangkan jumlah personel yang akan menjadi peserta lebih dari 8.000 pelaut.

"Indonesia sebagai tuan rumah akan mengerahkan 10 KRI, 1 flight Sukhoi, 1 flight F-16, 1 skuadron Cassa, 1 skuadron Nomad, dan 13 kapal pemerintah, serta 30 kapal pelayaran rakyat,"